1. Jika anda akan mengajarkan materi aritmatika social, strategi atau model pembelajaran apa yang menurut anda paling tepat di gunakan? Berikan alasannya!
Jawab:
Menurut kami strategi atau model pembelajaran yang paling tepat digunakan untuk materi aritmatika sosial adalah model pembelajaran kontekstual karena model pembelajaran kontekstual atau realistik tidak hanya menekankan pada komputasi, algorotmis serta drill tapi juga memperlihatkan bahwa matematika mempunyai hubungan yang sangat erat dalam dunia nyata (real world). Selain itu untuk mengawali suatu proses pembelajaran matematika yang mengutamakan aspek konstruktifisme di kelas sesungguhnya guru sudah harus mempersiapkan tugas serta aktifitas belajar siswa dan mengantisipasi setiap respons dan pertanyaan yang mungkin dikemukakan siswa. Hal ini akan lebih terasa dan nampak jelas ketika terhadap suatu konsep matematika yang akan diajarkan di kelas, proses pembelajaran diawali dengan menyajikan suatu situasi masalah yang bermakna bagi siswa, atau situasi yang kontekstual bagi siswa. Dengan demikian siswa akan berkesempatan untuk memberdayakan kemampuan serta pengalaman yang dimilikinya. Dengan mempertimbangkan bahwa kemampuan matematika siswa berada pada level yang beragam, karena itu, soal-soal yang disajikan ketika guru mengawali suatu kegiatan belajar hendaknya dapat mengakomodasi keberagaman level pengetahuan siswa dan membuka peluang untuk mereka berpartisipasi dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka. Demikian juga dengan mempertimbangkan bahwa konsep matematika adalah sesuatu (pengetahuan) yang abstrak dan untuk menuju pada keabstrakan tersebut pebelajar harus berpijak pada sesuatu (pengetahuan ) yang konkrit yang dimilikinya. Pemanfaatan terhadap pengetahuan yang dimiliki siswa sesungguhnya membuka kesempatan kepada mereka untuk berperan aktif dalam kegiatan belajar, apakah bertanya, mengemukakan pendapat atau bekerja sama dengan temannya dalam kelompok belajar. Dengan kata lain pembelajaran matematika di kelas janganlah “kering” dan “sepi” tetapi melibatkan siswa secara aktif adalah suatu yang dipandang perlu dan penting. Seperti yang telah diketahui bahwa pengaplikasian dari aritmatika banyak sekali di gunakan dalam kehidupan sehari-hari contohnya menghitung besar dan persentase laba, rugi, harga jual, harga beli, rabat, neto, pajak dan lain-lain maka dengan menggunakan model pembelajaran ini siswa akan dengan mudah mengambil contoh pengaplikasian dari berbagai pengalaman mereka di kehidupan sehari-hari sehingga siswa akan lebih mudah memahami materi tersebut.
2. Sebutkan alat peraga matematika smp dan materi yang dijelaskan dengan bantuan alat tersebut?
Jawab:
Nama salah satu alat peraga yang dapat digunakan untuk membantu memepermudah menyelesaikan persamaan linier satu variabel adalah “Model Kartu”.
Bentuk alat :



Dari kegiatan tersebut dapat diketahui bahwa :
1.Dapat menambah kedua ruas dengan sesuatu yang sama.
2. Dapat mengurangi kedua ruas dengan sesuatu yang sama.
3. Dapat mengelompokkan kedua ruas menjadi beberapa kelompok yang sama.
3. Perangkat apa saja yang harus dipersiapkan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan bantuan komputer?
Jawab :
Perangkat yang harus dipersiapkan sebelum peksanaan pembelajaran dengan bantuan komputer adalah :
(1) Memiliki data yang akurat tentang kondisi dan penggunaan ICT (information and Communication Technology Skills) di sekolah-sekolah di Indonesia.
(2) Siapkan anggaran yang akan disediakan tersebut agar dapat digunakan untuk kegiatan apa saja, pengadaan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), atau persiapan perangkat otaknya (brainware), misanya untuk pelatihan gurunya.
(3) Sesuai dengan ketersediaan anggaran tersebut kelompokkan berapa sekolah, sekolah mana saja yang akan dipersiapkan untuk menjadi uji coba penggunaan ICT. (4) Sediakan desain pembelajaran berbasis komputer yang akan diterapkan.
(5)Tentukan mata pelajaran apa saja yang akan disiapkan dalam bentuk CD ROM. (6) Tentukan berapa banyak CD ROM ,buku pelajaran yang harus disiapkan untuk proses pembelajaran berbasis komputer.
4. Bagaimana cara anda dalam melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa?
Jawab:
Dengan cara mengumpulkan dan menggunakan informasi yang diperoleh selama kegiatan belajar mengajar berlangsung seperti kuis, pertanyaan lisan di kelas, ulangan harian, tugas individu, tugas kelompok, ulangan semester, ulangan harian untuk memberikan keputusan (nilai) hasil belajar siswa berdasarkan tahapan belajarnya. Sekaligus juga berorientasi pada kompetensi kelulusan yang harus dicapai, ketuntasan belajar, dilakukan dengan berbagai cara, serta tidak lupa yang mengacu pada pendekatan dan prinsip penilaian yaitu:
Pendekatan:
1. Menggunakan berbagai teknik
2. Menekankan hasil (outcomes), dengan memperhatikan input dan proses
3. Melihat dari perspektif taksonomi tujuan pendidikan, menilai perkembangan : kognitif, afektif dan psikomotor sesuai karakteristik mata pelajaran
4. Menerapkan standar kompetensi lulusan (exit outcomes)
5. Menerapkan system penilaian acuan criteria (criterion-referenced assessment) dan standar pencapaian (performance standard) yang konsisten.
6. Menerapkan penilaian otenrtik untuk menjamin pencapaian kompetensi
- Prinsip :
1. Penilaian merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran
2. Mencerminkan masalah dunia nyata
3. Menggunakan berbagai ukuran, metode, teknik dan criteria sesuai dengan karakteristik dan esensi opengalaman belajar
4. Bersifat holistic, mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran
Dan dilakukanmelalui kumpulan kerja siswa (portopolio), hasil karya (products), penugasan (projects), Unjuk kerja (performances) dan tes tulis (paper & pen).
5. Bilamana anda akan menerapkan model pembelajaran kontekstual , langkah-langkah apa saja yang akan anda lakukan?
Jawab:
Ø Langkah I: Mengorientasi Siswa kepada Masalah
- Guru membantu siswa untuk menganalogikan peristiwa sehari-hari dengan matematika (dalam hal ini adalah pesta ulang tahun).
- Guru dan siswa mendiskusikan bahan-bahan yang perlu disiapkan untuk pesta ulang tahun.
- Memilah hal-hal apa saja yang berhubungan dengan matematika, misalnya anggaran pesta.
Ø Langkah II: Mengorganisasikan siswa untuk belajar (kelompok)
- Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok
- Guru membagikan Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada setiap kelompok
- Guru membagikan bahan-bahan yang diperlukan untuk diskusi kelompok
Ø Langkah III: Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
- Guru membimbing siswa dalam melakukan percobaan
- Siswa melakukan penyelidikan untuk menyelesaikan masalah dan kemudian ditulis di selembar karton untuk kemudian dipresentasikan didepan kelas
Ø Langkah IV: Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya
- Masing-masing perwakilan kelompok mempresentasikan hasil penyelidikan yang telah didiskusikan
- Siswa menanggapi hasil kerja temannya yang telah dipresentasikan didepan kelas
Ø Langkah V: Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah
- Guru meminta siswa menyimpulkan kegiatan yang baru saja dilakukan
- Guru memuji siswa atas kegiatan yang telah dilakukan
Ø Langkah VI: Memberikan Penghargaan
- Guru memberikan penghargaan atas partisipasi siwa dalam kegiatan pembelajaran
6. Dalam proses pembuktian suatu sifat, teorema, atau dalil, dikenal dengan dua jenis pembuktian yaitu deduktif dan induktif . bagaimana proses kedua pembuktian tersebut dalam matematika? Apa kekurangan dan kelebihan masing- masing?
Ø Pembuktian matematika secara dedukif
Penalaran dalam matematika sulit dipisahkan dari kaidah-kaidah logika. Penalaran-penalaran yang demikian dalam matematika dikenal dengan istilah penalaran deduktif. Menurut kaidah bahasa Indonesia, penalaran deduktif berarti penalaran yang bersifat deduksi, yaitu penalaran atas dasar hal-hal yang bersifat umum kemudian diturunkan ke hal-hal yang khusus. Sedangkan penalaran induktif, secara bahasa berarti penalaran yang bersifat induksi, yaitu penalaran atas dasar dari hal-hal yang bersifat khusus, kemudian disimpulkan menjadi yang bersifat umum. Tercatat beberapa penjelasan tentang deduksi dalam matematika, di antaranya:
Proses penalaran dari prinsip umum diturunkan ke kesimpulan fakta khusus
Proses penalaran yang konklusinya diturunkan secara mutlak dari premis-premisnya
Suatu argument adalah valid deduktif jika dan hanya jika bahwa tidak mungkin konklusi salah padahal premisnya benar.
Pembuktian yang menggunakan penalaran deduktif biasanya menggunakan kalimat implikatif yang berupa pernyataan jika …, maka …. Kemudian, dikembangkan dengan menggunakan pola pikir yang disebut silogisme, yaitu sebuah argumen yang terdiri atas tiga bagian. Di dalamnya terdapat dua pernyataan yang benar (premis) yang menjadi dasar dari argument itu, dan sebuah kesimpulan (konklusi) dari argument tersebut. Di dalam logika, sebagai cabang (inti) matematika yang banyak membahas tentang silogisme terdapat beberapa aturan yang menyatakan apakah silogisme itu valid (sahih) atau tidak.
(1) Premis Mayor – Premis pertama haruslah memiliki satu hal yang berhubungan dengan premis yang kedua
(2) Premis Minor – Premis kedua haruslah memiliki satu hal yang berhubungan dengan premis pertama
(3) Konklusi – Kesimpulannya haruslah memiliki satu hal yang berhubungan dengan kedua premis tersebut.
Contoh 2.1
Premis Mayor : Semua serangga termasuk vertebrata
Premis Minor : Semua semut termasuk serangga
Konklusi : Jadi, semua semut termasuk vertebrata
Contoh 2.2
Premis Mayor : Jumlah ketiga sudut segitiga besarnya 1800
Premis Minor : Dua pasang sudut segitiga ukurannya sama besar
Konklusi : Jadi, pasangan sudut ketiga dari dua segitiga itu sama.
Sebagaimana disebutkan pada bagian terdahulu bahwa cara penalaran dengan deduktif di antaranya dapat dilakukan secara aturan inferensi, bukti langsung, bukti tidak langsung, dan induksi matematika
Ø Pembuktian matematika secara Induktif
Pembuktian cara induksi matematika merupakan pembuktian deduktif, meski namanya induksi. Induksi matematika atau disebut juga induksi lengkap sering dipergunakan untuk pernyataan-pernyataan yang menyangkut bilangan-bilangan asli..
Pembuktian cara induksi matematika ingin membuktikan bahwa teori atau sifat itu benar untuk semua bilangan asli atau semua bilangan dalam himpunan bagiannya. Caranya ialah dengan menunjukkan bahwa sifat itu benar untuk n = 1 (atau S(1) adalah benar), kemudian ditunjukkan bahwa bila sifat itu benar untuk n = k (bila S(k) benar) menyebabkan sifat itu benar untuk n = k +1 (atau S(k+1) benar).
Contoh : Buktikan bahwa jumlah n bilangan ganjil pertama adalah n2
Bukti
Harus dibuktikan S(n) = 1 + 3 + 5 + … + 2n-1 = n2
(1) untuk n = 1, benar bahwa S(1) = n2 = (12) = 1
(2) Andaikan benar untuk n = k, yaitu
S(k) = 1 + 3 + 5 + … + 2k-1 = k2, maka akan dibuktikan benar pula untuk n = k+1, yaitu
S(k+1) = 1+ 3 + 5 + …+ 2k-1 + 2(k+1) – 1 = (k + 1)2.
Sehingga 1+ 3 + 5 + …+ 2k-1 + [2(k+1) – 1] = k2 + 2(k+1) – 1
= k2 + 2k+ 1
= (k + 1)2 (terbukti benar)
Jadi, S(n) benar untuk semua bilangan asli
Ø Kekurangan dan Kelebihan Pembuktian matematika secara deduktif dan induktif
Kelebihan dan Kekurangan Pembuktian Induktif dan Deduktif
Pada proses induksi atau penalaran induktif akan didapatkan suatu pernyataan baru yang bersifat umum (general) yang melebihi kasus- kasus khususnya (knowledge expanding), dan inilah yang diidentifikasi sebagai suatu kelebihan dari induksi jika dibandingkan dengan deduksi. Hal ini pulalah yang menjadi kelemahan deduksi. Pada penalaran deduktif, kesimpulannya tidak pernah melebihi premisnya. Inilah yang dianggap menjadi kekurangan pembuktian deduksi
7. Bagaimana cara anda membuat pembelajaran matematika secara bermakna?
Pembelajaran matematika secara bermakna dapat dilakukan dengan pembelajaran secara kontekstual’
Pembelajaran secara kontekstual berhubungan dengan
(1) fenomena kehidupan sosial masyarakat, bahasa, lingkungan hidup, harapan dan cita yang tumbuh,
(2) fenomena dunia pengalaman dan pengetahuan murid, dan
(3) kelas sebagai fenomena sosial. Kontekstualitas merupakan fenomena yang bersifat alamiah, tumbuh dan terus berkembang, serta beragam karena berkaitan dengan fenomena kehidupan sosial masyarakat. Dalam kaitannya dengan ini, maka pembelajaran pada dasarnya merupakan aktivitas mengaktifkan, menyentuhkan, mempertautkan; menumbuhkan, mengembangkan, dan membentuk pemahaman melalui penciptaan kegiatan, pembangkitan penghayatan, internalisasi, proses penemuan jawaban pertanyaan, dan rekonstruksi pemahaman melalui refleksi yang berlangsung secara dinamis. Sementara itu, belajar pada dasarnya merupakan proses menyadari sesuatu, memahami permasalahan, proses adaptasi dan organisasi, proses asimilasi dan akomodasi, proses menghayati dan memikirkan, proses mengalami dan merefleksikan,dan proses membuat komposisi dan membuka ulang secara terbuka dan dinamis. Itulah sebabnya landasan CTL adalah konsep konstruktivisme.
8. Tuliskan materi/prasyarat yang diperlukan agar siswa dapat mengerjakan soal dibawah ini, kemudian kerjakan soal tersebut!
Perhatikan gambar :

Prasyarat yang diperlukan siswa untuk mengerjakan soal ini dalah :
- Siswa memahami lingkaran
- Siswa memahami jari-jari lingkaran, diameter lingkaran, busur dan juring pada lingkaran
- Siswa memahami sudut keliling dan sudut pusat
9. Tuliskan dalam bentuk diagram hubungan antar bangun datar segi empat! Dan kerjakan soal berikut!
- Jawab-
Berikut adalah Diagram hubungan antar bangun datar segi empat :

Dari titik B ditarik garis yang tegak lurus dengan CD. Jika keliling belah ketupat adalah 60 cm dan panjang diagonal AC adalah 24 cm, hitunglah panjang BE!
AB = BC = CD = BA = s
AB + BC + CD + BA = 60
4s = 60
s = 15 cm
AC = 24
OC = ½ x AC
= ½ x 24
= 12 cm
CD2 = CO2 + OD2
OD2 = CD2 – CO2
OD2 = 152 – 122
OD = 9 cm
BD = 2 x OD = 2 x 9 = 18 cm
LΔ BCD = ½ x BD x OC
= ½ x 18 x 12
= 108 cm2

LΔ BCD = ½ x CD x BE
108 = ½ x 15 x BE
BE = <!–[if gte msEquation 12]> 108 x 215<![endif]–> (108 x 2) / 15
BE = 14,4 cm
Jadi, panjang BE adalah 14,4 cm
10. Tuliskan peta konsep materi matematika di SMP yang memerlukan konsep perbandingan, kemudian gunakan untuk mengerjakan soal berikut!
-Jawab-
Berikut adalah Peta Konsep Materi Perbandingan :

Pak Ahmad membeli handphone di suatu Counter, karena alasan tertentu Pak Ahmad menjual lagi handphone tersebut kepada temannya dengan harga Rp. 1.700.000,00. Dari penjualan tersebut Pak Ahmad merugi sebesar 15%. Berapakah harga beli handphone tersebut?
Diketahui : Harga jual Rp. 1.700.000,00
Rugi 15%
Ditanyakan : Harga beli handphone tersebut ?
Misal : y = harga beli
Rugi = harga beli – harga jual
15% . harga beli = harga beli – harga jual
(15/100). y = y – 1.700.000
15y = 100y – 170.000.000
85y = 170.000.000
y = <!–[if gte msEquation 12]>170.000.00085<![endif]–>170.000.000/85
y = 2.000.000
Jadi, harga beli handphone tersebut adalah Rp. 2.000.000,00
11. Tuliskan dalam bentuk peta konsep materi matematika di SMP yang berhubungan dengan persamaan, kemudian kerjakan soal berikut!
-Jawab-
Berikut adalah Peta konsep yang berhubungan dengan materi Persamaan :

Diketahui dua buah bilangan bulat jumlahnya 12 dan selisihnya 4. Nyatakan masalah ini dalam sistem persamaan dan selesaikan dengan metode grafik!
Misal x = bilangan bulat pertama
y = bilangan bulat kedua
Diketahui : x + y = 12
x – y = 4
Ditanyakan : nilai x dan y ?
Jawab :
x + y = 12
x – y = 4 +
2x = 16
x = 8
x – y = 4
8 – y = 4
y = 4
Jadi, besar nilai x = 8 dan y = 4.
12. Tuliskan materi prasyarat untuk mengajarkan peluang di SMP, kemudian kerjakan soal berikut!
-Jawab-
Materi prasyarat untuk mengajarkan peluang adalah materi bilangan, himpunan, dan materi statistika.
Sebuah keluarga berencana memiliki 5 orang anak. Berapakah peluang keluarga tersebut memiliki 2 anak laki-laki?
Soal tersebut diselesaikan dengan cara kombinasi maka :
Diketahui : n = 5
r = 2
Ditanyakan :

Jawab : <!–[if gte msEquation 12]> Crn<![endif]–>
Jadi, besar peluang keluarga tersebut untuk memiliki 2 anak laki-laki adalah 10 peluang.
13. Tuliskan peta konsep bilangan yang diberikan di kelas 1 SMP. Kemudian kerjakan soal berikut!
-Jawab-
Berikut adalah Peta Konsep Materi Bilangan :
(Read the rest of this story.)